TOMOHON, 17 AGUSTUS 2026 — PKKMB UKIT 2026 tidak berhenti pada ruang-ruang auditorium. Di tengah momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, semangat generasi baru UKIT diwujudkan dalam sebuah aksi nyata: penanaman pohon di kompleks Auditorium Bukit Inspirasi dan Rektorat UKIT, Senin (17/8/2026).
Aksi tersebut menjadi simbol bahwa mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan dunia akademik, tetapi juga diajak memahami tanggung jawab yang jauh lebih besar: menjaga bumi tempat mereka hidup dan membangun masa depan.
Kegiatan penanaman pohon melibatkan Dr. Yopie A.T. Pangemanan, S.Pd., M.Pd., Wakil Rektor I/Bidang Akademik UKIT; Arie M. Andes, S.H., M.H., Ketua Panitia PKKMB UKIT 2026; Pdt. Dr. Artur M. Tewu, S.Th., M.Th., Sekretaris Panitia PKKMB UKIT 2026; Dr. (C). John Kutu Kampilong, S.T., M.M.; jajaran panitia; serta Presiden Mahasiswa UKIT, Evendi Reijen Entiman.
Dari Seremonial Menjadi Gerakan
Penanaman pohon ini membawa pesan sederhana namun kuat: kampus hijau tidak dapat dibangun hanya dengan slogan.
Harus ada tindakan.
Bibit yang ditanam hari ini mungkin belum memberikan keteduhan dalam waktu dekat. Namun, beberapa tahun ke depan, pohon-pohon tersebut akan tumbuh menjadi bagian dari lingkungan kampus yang lebih hijau, asri, dan nyaman.
Di situlah makna aksi tersebut.
Apa yang ditanam hari ini adalah sesuatu yang dinikmati generasi berikutnya.
Semangat Go Green pun tidak ditempatkan sebagai sekadar tren lingkungan, tetapi sebagai bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.
Mahasiswa diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan moral.
Dr. Yoppy: Kampus Harus Menjadi Contoh
Dr. Yopie A.T. Pangemanan, S.Pd., M.Pd., Wakil Rektor I/Bidang Akademik UKIT, menilai gerakan penghijauan harus menjadi bagian dari budaya kampus.
“Kita ingin mahasiswa baru memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita pelajari di dalam kelas. Pendidikan juga membentuk kepedulian kita terhadap lingkungan dan kehidupan bersama. Karena itu, penanaman pohon ini merupakan aksi sederhana, tetapi memiliki pesan yang besar,” ujarnya.
Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh nyata kepada mahasiswa.
“Kita tidak hanya berbicara tentang Green Campus, tetapi harus mulai mewujudkannya melalui tindakan. Mahasiswa adalah bagian penting dari gerakan ini,” tambahnya.
Arie M. Andes: Jangan Berhenti pada Hari Ini
Sementara itu, Arie M. Andes, S.H., M.H., Ketua Panitia PKKMB UKIT 2026, menegaskan bahwa aksi penanaman pohon merupakan bagian dari semangat PKKMB yang ingin menghadirkan pengalaman bermakna bagi mahasiswa baru.
“Kami ingin PKKMB tidak hanya menjadi kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Ada nilai yang ingin ditanamkan, termasuk kepedulian terhadap lingkungan. Harapannya, apa yang dilakukan hari ini tidak berhenti setelah kegiatan PKKMB selesai,” ungkapnya.
Ia berharap mahasiswa baru dapat meneruskan semangat tersebut dalam kehidupan kampus sehari-hari.
Menanam pohon sekali tidak cukup. Yang lebih penting adalah membangun budaya untuk merawatnya.
Pdt. Artur: Menanam Pohon, Menanam Harapan
Pdt. Dr. Artur M. Tewu, S.Th., M.Th., Sekretaris Panitia PKKMB UKIT 2026, melihat aksi penghijauan ini sebagai bagian dari pendidikan karakter.
“Ketika kita menanam pohon, sebenarnya kita sedang menanam harapan. Pohon membutuhkan waktu untuk bertumbuh, dan demikian juga karakter manusia. Ada proses, ada kesabaran, dan ada tanggung jawab untuk merawatnya,” katanya.
Menurutnya, semangat Go Green sejalan dengan upaya UKIT membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab.
“Mahasiswa yang baik bukan hanya mahasiswa yang berhasil secara akademik, tetapi juga mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan,” ujarnya.
John Kutu Kampilong: Aksi Kecil, Dampak Besar
Dr. (C). John Kutu Kampilong, S.T., M.M., turut memberikan perhatian terhadap pentingnya gerakan penghijauan di lingkungan kampus.
Menurutnya, perubahan besar sering kali dimulai dari tindakan yang sederhana.
“Jangan pernah menganggap aksi kecil tidak berarti. Satu pohon mungkin terlihat sederhana, tetapi kalau seluruh warga kampus memiliki kesadaran yang sama, dampaknya akan menjadi besar,” ungkapnya.
Ia berharap gerakan penghijauan dapat terus dikembangkan dan menjadi bagian dari kehidupan kampus UKIT.
Presma Evendi: Mahasiswa Jangan Hanya Bicara Perubahan
Semangat tersebut juga mendapat apresiasi dari Presiden Mahasiswa UKIT, Evendi Reijen Entiman.
Menurutnya, mahasiswa harus menjadi generasi yang berani mengubah gagasan menjadi tindakan.
“Saya sangat mengapresiasi aksi ini. Mahasiswa sering berbicara tentang perubahan, tetapi perubahan harus dimulai dari tindakan nyata. Menanam pohon adalah salah satu bentuk sederhana bahwa kita peduli terhadap masa depan,” ujar Evendi.
Ia menambahkan, mahasiswa baru harus melihat gerakan Go Green sebagai bagian dari identitas generasi mereka.
“Kita ingin generasi baru UKIT bukan hanya dikenal sebagai generasi yang aktif secara akademik, tetapi juga sebagai generasi yang peduli terhadap lingkungan. Kalau hari ini kita menanam, maka kita juga harus memastikan pohon itu dirawat dan terus bertumbuh,” katanya.
Hari Ini Menanam, Esok Hari Meneduhkan
Aksi penanaman pohon di kompleks Auditorium Bukit Inspirasi dan Rektorat UKIT akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda dalam rangkaian PKKMB.
Ia menjadi simbol estafet tanggung jawab dari generasi hari ini kepada generasi yang akan datang.
Mahasiswa baru mungkin hanya akan berada di kampus selama beberapa tahun.
Tetapi pohon yang mereka tanam dapat bertahan jauh lebih lama.
Kelak, ketika mahasiswa baru hari ini telah menjadi alumni, mungkin akan ada generasi berikutnya yang duduk di bawah pohon yang pernah mereka tanam.
Di situlah makna Go Green menjadi nyata.
Hari ini mereka menanam pohon. Besok, pohon itu yang memberikan kehidupan.
PKKMB UKIT 2026 pun meninggalkan sebuah pesan yang sederhana namun kuat:
“Jangan hanya menjadi generasi yang menikmati bumi. Jadilah generasi yang ikut menjaganya.”
Generasi baru UKIT adalah generasi peduli bumi. Dari kampus hijau, menuju masa depan yang lebih hijau.










